Suatu hari telepon di kantorku berbunyi. Makanya aku nyuruh kamu datangnya hari ini, biar dirumah ngga ada orang. Bokeb Herlin menatap mataku dalam-dalam,
seakan ingin menunjukkan ketulusan hatinya. Suatu hari telepon di kantorku berbunyi. teruuss.. “Siang, bisa bicara dengan Pak Vito?” “Ya, saya sendiri, dengan siapa saya bicara?” “Oh, ini Pak Vito? auuhh.. Saat kuucapkan “halo”, terdengar suara merdu dari seberang sana. Aku ngga peduli barangmu kecil atau apa.. Aku tidak menyangka masih ada gadis sekarang yang bisa menjaga keperawanannya sampai usia yang
cukup matang. Cuma agak geli aja..” kata-katanya membuatku semakin gugup. “Aku tunggu kamu
di rumahku malam ini jam delapan.”Jam delapan lewat lima menit aku sudah berada di rumah Herlin.




















