Aku mengerang.“Ooochh.., teruskan Mas..”, Tania berbisik sambil mengangkat kedua pahanya untuk mempermudah usapan jemarinya di bibir kewanitaannya.“Lalu Mas mendorong senti, demi senti. Bokeb Dua kali. Lava panasku meledak-ledak di dalam lubang kewanitaannya, sementara Tania tetap menggoyang-ngoyangkan pinggulnya. Mas mau bersih-bersih dulu nih terima kasih yaa..”, aku berkata terus terang. em”, ujernya pendek.Itulah awal pembicaraan kami di telephone yang dipenuhi oleh percakapan penuh rasa romantisme yang membakar sensualitas fantasi kami. Biar semuanya harum.Sejenak aku melirik ke kaca, dan darahkupun berdesir lagi ketika aku melihat Tania sedang membasuh payudaranya dengan air sabun. Aku meneruskan hisapan mulutku, meningkahinya dengan gigitan-gigitan lembut. Tania sudah tak lagi mempedulikan keras erangan suaranya. Dengan satu tangan tetap meremas-remas dadanya sendiri, ia mengusap-usap kewanitaanya dengan tangan yang lain.




















