Aku tidak mempermasalahkan orang-orang yang sering berjalan dengan lagak, atau orang yang kadang singgah mengencingiku, atau ketika aku jadi bahan lelucon karena sebuah mobil milik pejabat menabrakku. Malam semakin larut. Bokep Montok Anak laki-laki itu juga ikutan merokok. Malam itu tidak hujan tapi bau aspal basah karena hujan tadi sore masih menguar. Jika hujan, tidak ada yang lebih indah selain melihat orang-orang berpayung, melompati genangan air hingga terciprat dan sesekali mengenai pakaian mereka, lalu tiba-tiba ada suara tawa di bawah payung-payung itu. Itu cuma dugaanku. Ketika hujan datang, aku membasah. Hingga beberapa gerombolan anak datang menghampiri anak laki-laki itu. Tidak cukup lama, orang-orang sudah berkerumun ke arah anak itu. Malam semakin larut. Aku tidak tahu tapi aku teramat jengkel dengan diriku sendiri. Kisah-kisah miris semacam itu sudah jadi makanan sehari-hari. “Woi!” teriak salah satu anak dari gerombolan itu dengan kasar.




















