Anak-anaknya
dibawa semua. Aku
masih terus mengintip, sampai akhirnya Kak Tina tampak terlonjak-lonjak
dari tempat tidur. Bokeb “Sana, Urus sapi”, Usirnya kepadaku. Jantungku berdebar kencang. Kak Tina lupa menyembunyikannya. Paginya aku takut-takut, kalau Kak Tina tahu
ada sisa sperma di dasternya. Tapi Kak
Tina tak pernah mengajakku membaca bersama lagi. Mukanya yang sedikit hitam
bertambah gelap. Astaga, memang basah! Terkadang mengelusnya,
terkadang mengusap sampai ke pangkal pahaku. “Barusan ya?”. Saya belum pernah Kak Tina ijinkan membacanya”. Mukanya yang sedikit hitam
bertambah gelap. Tiba-tiba terdengar suara sepeda yang disandarkan ke dinding. Memandanginya. Aku
kaget! Namanya Tina, gadis Bali berkulit hitam manis. Kak Tina mengambil novelnya, hendak menyimpannya di
dalam lemari. Tempat tidurku terdengar berderak. Aku tak berani
bertanya kepadanya. Saat itulah kurasakan puting susu Kak Tina
mengelus punggung tanganku. Anak-anaknya
dibawa semua. Kak Tina merapikan bajunya. Aku salah tingkah. Langsung
saja kemaluanku membesar, meradang di balik celana seragamku.




















