Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr. Bokep Mama Aku hampir sesak nafas dibuatnya. Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku. Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada. Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar. Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi…, aku *****ik keras sambil menjambak rambutnya. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya. “Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!”. Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan.




















