Hanya saja yang mengundang decak kagumku adalah, di sini kutemui bulu-bulu seperti rambut yang sebagian besar berwarna putih seperti uban, tetapi cuma satu sisi yang tersisa. Biasanya, mereka sambil bersiul di tempat mereka nongkrong, mengeluarkan kata-kata yang jorok, hingga seringkali Mbak Sekar hampir menangis bila kebetulan lewat dan di goda secara keterlaluan oleh mereka. Bokep Montok Ya, penisku belum mampu ku tidurkan. Di bawahnya, ada lobang yang aku sendiri tak tahu seberapa dalam, karena aku tak berani memasukkan jariku ke dalamnya. Kalau sudah begitu, biasanya, aku akan langsung mencak-mencak membela Mbak Sekar. “Kena..!” kataku sambil merangkul Kak Sekar dari belakang dan berusaha menggapai dadanya dari belakang. Aku perhatikan dengan seksama raut muka nenek yang keriput di makan usia. Seperti telah ku paparkan, ranjang kayu jati yang kutempati, memang telah usang. Ini saatnya berpesta.. Tapi, tiba-tiba pikiran nakalku muncul untuk menggoda Mbak Sekar. Tiba-tiba aku seperti di ingatkan, kenapa











