Cepat-cepat kualihkan pandanganku. Bokep Montok “Jangan,” kataku. Kurasakan jemariku menempel di dadanya. “Tentu saja,” katanya,
“aku juga minta maaf. Kurasa aku terlalu emosionil.”
“Tak apa-apa,” balasku tersenyum. “Apa yang lucu?” tanyaku. “Ssshhh,” ia mendesis. “Berdiri,” ia berbisik di telingaku. “Kamu akan menghilang besok pagi?” Kudengar ia tertawa lirih. Saat aku memindah perseneling, jemarinya terangkat dan menggenggam pergelangan tanganku. Kutatap matanya. Dari balik kemeja putih tipis yang ia kenakan, aku bisa melihat bayangan bra-nya. Bibirnya begitu lembut di bibirku. Semua yang sudah kulalui. Ia tersenyum menatapku, lalu jemarinya bergerak menuju kancing-kancing bajunya. Kutekan pinggulku kuat-kuat ke depan. Dengan jemariku, kuraba bulu-bulu kemaluannya yang tersusun rapi. Kutekan pinggulku kuat-kuat ke depan. Kubalikkan tubuhku dengan kesal, lalu melangkah kembali ke sofa. “Aku tak suka.”
Tapi seolah tak mendengarku, jemarinya meraih batang kemaluanku. Lumayan juga penghasilanmu.”
“Cukup untuk seorang diri.”
“Let’s see. Genggamannya di batang kemaluanku terlepas.




















