Eksanti menggeliat bagai cacing kepanasan terkena terik mentari. Bokep Mama untuk selanjutnya aku benamkan lagi, masuk.., keluar.., masuk.., keluar..Aku meminta Eksanti untuk membuka kelopak matanya. Dalam posisi yang sudah sama-sama telanjang, kecuali Eksanti yang masih mengenakan celana dalamnya, berdua di dalam sebuah kamar di tepi laut yang romantis, dapat dibayangkan apa sebenarnya yang bakal terjadi. “Mas, mau ngajak Santi ke mana, sih”, Eksanti menatap wajahku. Aku memandang matanya, memandang bibirnya yang basah. Lalu, perlahan-lahan aku menarik turun cup bra-nya. Aku memastikan kalau yang di dalam kamar itu adalah Eksanti, bukannya orang lain. Lagian ngapain dia mesti minta tanggung jawab, seandainya aku tidak berbuat apa-apa dengannya, pikirku lagi. Aku meringis.“Kalau punya Mas yang sekarang, kayaknya Santi nggak bisa?”, ujarnya. “Ya, mesti dong..,’kan Mas yang dulu ngajarin Santi!”, jawabnya sambil cekikikan. Lagian kalaupun bisa, aku sebenarnya nggak ingin bermimpi tentang kamu, Santi”, jawabku pura-pura memelas.




















