Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Bokep Ojol Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Aku dipermainkan seperti anak bayi.Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Dadaku berguncang. Aku duduk di tepi dipan. Tetapi, bayangan itu terganggu. Suara pletak-pletok mendekat.“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.Aku tengkurap. Bayar arisan. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.“Balik badannya..!” pintanya.Aku membalikkan badanku. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Lho, salon kan tempat umum. Kring..!“Mbak Wien, telepon.” kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..! Kuusap sisa cream. Sial. Mengapa kancing baju cuma tujuh?Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di




















