Aku menelan ludah: “agak naikkan bokong (pantat)mu Nduk, supaya Mbah gampang nyiumnya” perintahku. Jangkrik, aku sendiri belum keluar nih. Vidio Bokep iya Mbah..” katanya bergetar: “di pipis saya.. Tidak kupedulikan lagi bahwa kursi dan meja reyot yang kami gunakan semakin kuat bergoyang dan berderak-derak. Kamu sudah merasa enakan sekarang?” dia mengangguk: “i..iya Mbah.. Kubuka pintu kamarku dan aku memanggil salah satu tukang ojek yang mangkal untuk mengantarkannya pulang. Erangannya semakin keras (untung saja suara TV di luar sangat keras dengan lagu dangdut, moga-moga erangannya tidak ada yang mendengar). Bisa menyembuhkan kamu saja Mbah sudah bersyukur banget.” Kulihat bibir si Suminem tersenyum halus, mengangguk dan meminta ijin pulang.




















