“Aduh Mbak, sakit!”, keluhku agak keras sehingga agak terdengar dan menarik perhatian orang-orang disekitar kami. Bokep India Selesai mengemasi semua berkas dan catatan, kucoba berdiri dan memutar-mutar kepala untuk melemaskan otot leher dan punggung. Tangan kiriku yg bebas meremas kedua payudaranya bergantian. “Hmm.. “Dia yg kedua, tapi aku juga cuma istri keduanya, istri pertamanya ada di Jakarta dan mungkin tak tahu mengenai aku. pasti belum, kalau tidur kamu kok kuat sekali!”, omelnya. Zainal, mmh..”. Raguku benar-benar hilang dan tangannya semakin bebas bergerak. Aku menggelengkan kepala saja dan meneruskan merokok. kamu nggak pernah bisa diajak serius”, keluhnya dengan muka masam. Aku masih cuek dengan keadaan sekelilingku tapi Indah agak gelisah dan mengeluhkan ajakanku ke kafetaria. Malam itu aku hanya dapat tidur nyenyak tiga jam saja. “Ke kafetaria yuk”, ajakku dengan tak menghiraukan gurauannya. Tangan kiriku yg bebas meremas kedua payudaranya bergantian. Sebuah cubitan langsung menancap di tangan kiriku.




















