Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.“Dik.., jangan dibuka lebar. Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Bokep Arab Sial. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Tunggu apa lagi. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Junior berdenyut-denyut. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”Yes..!




















