Paling-paling ia hanya menepis tanganku sambil matanya jelalatan khawatir ada orang yang melihatnya. “Ayolah.., Sar, sebentar aja, sekali aja..”. Bokeb Sebentar lagi.., hampir..! Letak tempat kerjanya tak jauh dari kantor itu. Aku melayang. Sementara rasa nikmat menyelimuti bawah badanku, deg-degan juga dengan kondisi yang “aneh” ini. Hanya, kemungkinan ketemu kecil, sebab proyekku di kantor itu telah selesai. Kanan kembali ke Setia Budi. Tempat ini memang biasa macet. Betul juga. Selain keluar/masuknya angkot, juga ada pertigaan jalan Sersan Bajuri. Tanganku kembali meremasi bukit kecil kenyal itu sambil secara bertahap mencopoti kancing kemejanya. “aahh”, desahnya. Ke Maribaya? “Bajunya engga usah dimasukin”, sarannya. Aku masuk ke Plaza, cari tempat parkir yang aman, di belakang bangunan. “Mau dicium..?”. Kelihatannya ia sudah biasa ber-oral-seks. Roknya selalu model mini dan cara duduknya sembarangan. Sari memang pintar berimprovisasi. Si “Joni” mana mau mengerti lain kali.











